Tuesday, December 20, 2011

Jogja dan Pluralisme

Semua berawal dari tulisan Arif Budiman dan Nofrizaldi yang dimuat dalam situs www.lenteratimur.com tentang perlawanan masyarakat Yogyakarta terhadap terhadap wacana Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang beberapa waktu lalu sempat memanas. Ada sesuatu yang menarik tentang Yogyakarta. Nama awal Yogyakarta adalah Ngayogyakarta Hadiningrat, sebuah nama kesultanan yang didirikan Sultan Hamengku Buwono I (Pangeran Mangkubumi) pada tahun 1755. Yogyakarta belakangan secara tak resmi juga umum disebut sebagai Jogja dan disatukan dengan tagline wisata yang menyertainya “Jogja, Never Ending Asia”. Saya mengikuti saran tulisan Arif Budiman untuk menyusuri jalan-jalan di Jogja dan menemukan banyak spanduk dan baliho yang pada intinya menginginkan ketetapan keistimewaan Jogja berlandaskan sejarah keistimewaannya. Spanduk dan baliho tersebut seolah menjadi pesan pengingat bagaimana sejarah Jogja menjadi bagian dari Republik Indonesia. Sama halnya dengan Aceh, Jogja merupakan daerah dan kerajaan tersendiri yang telah berdaulat sebelum Indonesia merdeka hingga akhirnya menyatakan mendukung dan rela bergabung dengan Indonesia. Spanduk dan baliho ini merupakan simbol kecintaan mereka terhadap pemimpin dan daerahnya. Saya ingin mengetahui Jogja lebih dalam lagi, Jogja dalam pandangan warga asli dan pendatang yang bermukim di Jogja.

Rasa ingin tahu tersebut membawa saya berkenalan dengan penarik becak yang biasa mangkal di Stasiun Tugu Jogja. Wahyu namanya. Namun ia lebih dikenal sebagai Wahyu gondrong, ini karena rambutnya yang gondrong sepunggung. Menjelang malam, Wahyu biasa mangkal di dekat pusat angkringan kopi joss, bersebelahan dengan stasiun tugu Jogja. Kopi joss adalah minuman wisata khas jogja, kopi hitam yang ditambahkan bara arang. Suara joss dari bara saat dimasukan dalam kopi panas itulah yang nampaknya dijadikan nama minuman ini. Kabarnya kopi ini efektif untuk mencegah masuk angin. Saya selalu menyempatkan mampir ke tempat ini setiap kali singgah ke Jogja.

Wahyu orang Jogja asli. Gurat wajahnya mengabarkan usia empatpuluh tahun. Wahyu nampak senang dan bangga sebagai warga asli Jogja. Anak tertuanya kini kuliah di Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (UGM). Jogja diakuinya sebagai kota teraman. Satu hal yang menarik adalah bahwa Ia sangat menghormati sultannya, Sultan Hamengkubuwono X.

“Sultan itu mas, kalau ada kerusuhan tau-tau datang, entah datangnya dari mana, dengan kedatangan sultan masalahnya jadi beres, kadang-kadang kita tidak tahu kalau ada sultan di sekitar kita,” paparnya pada suatu malam. Barangkali terdengar mistis, namun itulah cara sederhana Wahyu dalam menyampaikan apa yang ia rasakan. Peran Sultan sangat terasa di Jogja.

Cerita ini mengingatkan saya pada Bung Karno yang pernah ‘menyamar’ menjadi warga biasa di Pasar Senen di malam hari atau Umar Bin Khattab yang biasa berkeliling malam melihat keadaan warganya. Saya membatin apakah sultan juga sering melihat warganya dengan membaur tanpa diketahui. Mengontrol ritme ketenteraman di Jogja.

Aman dan ramahnya Jogja ternyata bukan bualan warga asli Jogja. Carol Noreen Lolly, pengajar native Bahasa Inggris dari Maine Amerika pada Pusat Pelatihan Bahasa Fakultas Ilmu Budaya UGM ini punya pengalaman lain tentang Indonesia dan Jogja. Carol seorang backpacker, maka ia memutuskan untuk ke Indonesia melalui jalan darat dan laut. Menyeberang dari Singapura dan berlabuh di sebuah pulau di Indonesia. Pengalaman buruk segera dialaminya. Seorang lelaki menguntitnya kemana pun ia pergi. Menginap di hotel melati yang kotor ditambah pemilik hotel yang mabuk berat. “Bad scenario,” kenangya.
Ia kaget melihat Indonesia dan hampir akan meninggalkan Indonesia hingga ia mengenal dan ‘tersangkut’ di Jogja.
“Saya sampai di Jogja dan mulai menyukainya, maka saya membeli sepeda motor dan tinggal disini. Sekarang kemana-mana saya memakai sepeda, motor sudah saya jual, saya suka Jogja,” katanya.

Jogja punya pemimpin yang dicintai rakyatnya dan ini telah berlangsung lama dan bergenerasi. Dalam catatan sejarah, di awal pendirian UGM, Sultan Hamengkubuwono IX meminjamkan ruangan keraton untuk ruang kuliah. Hingga saat ini, peran sultan tetap dirasakan manfaatnya oleh warga Jogja. Menurut Wahyu, Jogja adalah versi mininya Indonesia, semua suku ada di sini. Maka jangan heran jika kita dapat menemukan jenis makanan beragam di Jogja mulai dari Mie Aceh, bubur jagung Manado hingga papeda yang berbahan dasar sagu dari Timur Indonesia.

Sebagaimana umum terjadi, keragaman suku selalu memiliki potensi konflik. Namun sultan punya cara tersendiri menanganinya. Rudi Yusuf, Dosen Bahasa Jepang di Makasar yang pernah kuliah di Jogja menjelaskan peran sultan dalam menyelesaikan masalah. Pernah satu ketika di tahun 2007, terjadi pertikaian antar dua suku. Awalnya mereka bertemu di angkringan, saling pandang hingga terjadi perkelahian. Pertikaian meluas hingga saling serang antar asrama suku tersebut. Empat buah motor dibakar. Kerusuhan lebih besar siap terjadi, bala bantuan siap berdatangan menggunakan banyak bis. Sultan turun tangan. Perwakilan kedua suku dipertemukan, sultan ada di sana, dengan satu kalimat sederhana, persoalannya menjadi selesai.

“Jangan membuat kerusuhan di Jogja, kalau masih bertikai, kalian tak diizinkan belajar di Jogja, silahkan meninggalkan Jogja,” kenang Rudi menirukan sultan.

Kedua suku tersebut berdamai, empat buah motor yang dibakar diganti oleh pihak yang membakar. Ini menarik, sebab misalnya, di saat konsep restorative justice—­peradilan yang bersifat memulihkan para pihak—dikaji dan dikembangkan kriminolog John Braithwaite di Australia, di Jogja restorative justice sudah dilakukan.

“Sultan orangnya lembut tapi tegas,” lanjut Rudi. Rudi mengaku banyak belajar berinteraksi di Jogja.
“Di daerah saya, menatap mata itu merupakan hal yang harus dihindari karena dapat dianggap menantang, tapi di Jogja ternyata orang biasa menatap mata, saling sapa dan tersenyum, Jogja telah mengubah cara pandang saya,” kenang Rudi.

Rudi tidak berlebihan, suatu saat jika mampir ke Jogja, singgahlah di suatu tempat dan anda akan merasakan keramahan Jogja di tengah keberagaman.

1 comment:

Eko Mukminto said...

Buku-nya Pak ferry juga dicetak di Jogja....
ihir..