Sunday, October 23, 2011

Kansai Airport



14 Oktober 2011 pukul 8.45 saya bersama 15 teman lainnya sampai di Kansai Airport (dari Bandara Soekarno Hatta pukul 20.00 malam, transit di Ngurahrai untuk terbang lagi pukul 00.45 14 oktober 2011). Kansai tak begitu ramai. Turun dari pesawat kami menuju kereta bandara tanpa awak dan tak bersuara (halus). Beberapa teman menyempatkan ke toilet sebelum naik kereta. Kereta berpintu otomatis tersebut mengantarkan kami menuju ruang utama bandara. Ada 2 form keiimigrasian yang harus kami isi untuk diserahkan di dua pos bandara. Form tersebut dibagikan di dalam pesawat menjelang landing (jangan khawatir jika hilang, sebab di bandara masih ada persediaan form yg bisa diambil) Pos pertama pemeriksaan paspor dan form 1 diberikan, telunjuk kiri kanan dan mata kita dipindai di pos ini. Berikutnya kemudian kami mengambil barang bagasi, lalu melewati pos 2, form berikutnya kita serahkan di sini. Keluar pemeriksaan keimigrasian polisi Jepang menghampiri dengan ramah dan meminta menunjukan paspor (semacam inspeksi mendadak, beberapa data dalam paspor dicatat). Komandan polisinya ternyata fasih berbahasa Indonesia karena pernah berada di mabes polri untuk beberapa waktu dalam rangka menerangkan sistem kepolisian di Jepang. Kansai Airport tidak begitu ramai, bahkan jika dibandingkan dengan Soekarno Hatta masih kalah luas. Mungkin di Bandara Narita Tokyo lebih luas dan ramai. Ada vending machine, mesin swalayan penyedia minuman ringan kalengan dan botol plastik. Pada umumnya harganya sekitar 100 hingga 150 yen (kurang lebih 10 hingga 15 ribu rupiah). Uang pecahan yang bisa digunakan di mesin ini adalah koin 10,50,100 dan 500 yen (uang pecahan yen sisanya adalah 1 dan 5 yen). Mesin ini juga menerima pecahan kertas 1000 yen (pecahan kertas terdiri dari 1000, 5000 dan 10.000, kecuali jika ada di atas 10.000, tapi saya belum pernah lihat selama di Jepang). Konon kabarnya Kansai Airport awalnya adalah laut yang kemudian diurug menjadi Bandara. Abdul Hamid, teman yang sudah ke Jepang dua kali pernah menulis tentang ini. Herlambang Saputra, rekan saya dari Palembang mengafirmasi informasi tersebut, bahkan ia memiliki film youtube pembangunan Bandara Kansai. Ini perjalanan terburuk saya sebagai traveler. Biasanya jika saya akan ke suatu tempat yang baru, pasti saya selalu well-prepared, menyiapkan barang bawaan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat tersebut. Kompas penunjuk kiblat yang biasa disiapkan bahkan luput dari perhatian dan terlewatkan. Kali ini sama sekali blas, waktu yang mepet dan persoalan administrasi dokumen beasiswa dan lain-lain membuat saya tak memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan ini itu, beruntung istriku, Dewi, membantu packing semua barang (baju, makanan dll) dalam 2 tas. Ia sebenarnya akan membawa 1 tas lagi, tapi khawatir lebih dari 30 kilo dalam bagasi dan kena charge jadi banyak bahan kebutuhan yang saya tinggalkan. Ternyata total kopor saya yang masuk bagasi hanya 13 kilogram  masih banyak jatah tersisa. Di Ujung utara Bandara Kansai Nishida Asako sudah menunggu. Asako adalah staf dari International Student Affairs Division Kanazawa 7 yang menjemput kami dengan bis. Harga charter bisnya 7000 yen/orang (sekitar 700 ribu lebih). Beberapa kopor kami dikirim melalui jasa pengiriman barang yang ada di Bandara karena kapasitas ruang barang bis yang terbatas. Saya membayar 1890 yen untuk jasa kirim kopor saya, sementara ransel dan satu tas lain berisi mie instan dan saos sachet ikut dengan saya ke Bis. Sebelum naik bis saya menyempatkan ke toilet. Bersih dan serba otomatis berbasis sensor. Kran wastafel akan mengalir saat kita menyodorkan tangan, begitupun dengan busa sabunnya. Pengering tangannya agak berbeda dengan kebanyakan di Indonesia, dibuatnya selaras dengan sifat air, mengalir ke tempat rendah, jadi jari tangan kita menghadap ke bawah dan perlahan kita tarik ke atas, angin dari mesin akan menjatuhkan air ke bawah sering tangan yang kita tarik ke atas.
Jarak dari Kansai Airport ke Kanazawa ternyata cukup jauh, 5 jam perjalanan bis. Kanazawa sebenarnya memiliki Airport, tetapi hanya untuk penerbangan domestik di Jepang. Bersambung...

Kansai Air port.
14 Oktober 2011 pukul 8.45 saya bersama 15 teman lainnya sampai di Kansai Airport (dari Bandara Soekarno Hatta pukul 20.00 malam, transit di Ngurahrai untuk terbang lagi pukul 00.45 14 oktober 2011). Kansai tak begitu ramai. Turun dari pesawat kami menuju kereta bandara tanpa awak dan tak bersuara (halus). Beberapa teman menyempatkan ke toilet sebelum naik kereta. Kereta berpintu otomatis tersebut mengantarkan kami menuju ruang utama bandara. Ada 2 form keiimigrasian yang harus kami isi untuk diserahkan di dua pos bandara. Form tersebut dibagikan di dalam pesawat menjelang landing (jangan khawatir jika hilang, sebab di bandara masih ada persediaan form yg bisa diambil) Pos pertama pemeriksaan paspor dan form 1 diberikan, telunjuk kiri kanan dan mata kita dipindai di pos ini. Berikutnya kemudian kami mengambil barang bagasi, lalu melewati pos 2, form berikutnya kita serahkan di sini. Keluar pemeriksaan keimigrasian polisi Jepang menghampiri dengan ramah dan meminta menunjukan paspor (semacam inspeksi mendadak, beberapa data dalam paspor dicatat). Komandan polisinya ternyata fasih berbahasa Indonesia karena pernah berada di mabes polri untuk beberapa waktu dalam rangka menerangkan sistem kepolisian di Jepang. Kansai Airport tidak begitu ramai, bahkan jika dibandingkan dengan Soekarno Hatta masih kalah luas. Mungkin di Bandara Narita Tokyo lebih luas dan ramai. Ada vending machine, mesin swalayan penyedia minuman ringan kalengan dan botol plastik. Pada umumnya harganya sekitar 100 hingga 150 yen (kurang lebih 10 hingga 15 ribu rupiah). Uang pecahan yang bisa digunakan di mesin ini adalah koin 10,50,100 dan 500 yen (uang pecahan yen sisanya adalah 1 dan 5 yen). Mesin ini juga menerima pecahan kertas 1000 yen (pecahan kertas terdiri dari 1000, 5000 dan 10.000, kecuali jika ada di atas 10.000, tapi saya belum pernah lihat selama di Jepang). Konon kabarnya Kansai Airport awalnya adalah laut yang kemudian diurug menjadi Bandara. Abdul Hamid, teman yang sudah ke Jepang dua kali pernah menulis tentang ini. Herlambang Saputra, rekan saya dari Palembang mengafirmasi informasi tersebut, bahkan ia memiliki film youtube pembangunan Bandara Kansai. Ini perjalanan terburuk saya sebagai traveler. Biasanya jika saya akan ke suatu tempat yang baru, pasti saya selalu well-prepared, menyiapkan barang bawaan dan mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya tentang tempat tersebut. Kompas penunjuk kiblat yang biasa disiapkan bahkan luput dari perhatian dan terlewatkan. Kali ini sama sekali blas, waktu yang mepet dan persoalan administrasi dokumen beasiswa dan lain-lain membuat saya tak memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan ini itu, beruntung istriku, Dewi, membantu packing semua barang (baju, makanan dll) dalam 2 tas. Ia sebenarnya akan membawa 1 tas lagi, tapi khawatir lebih dari 30 kilo dalam bagasi dan kena charge jadi banyak bahan kebutuhan yang saya tinggalkan. Ternyata total kopor saya yang masuk bagasi hanya 13 kilogram  masih banyak jatah tersisa. Di Ujung utara Bandara Kansai Nishida Asako sudah menunggu. Asako adalah staf dari International Student Affairs Division Kanazawa 7 yang menjemput kami dengan bis. Harga charter bisnya 7000 yen/orang (sekitar 700 ribu lebih). Beberapa kopor kami dikirim melalui jasa pengiriman barang yang ada di Bandara karena kapasitas ruang barang bis yang terbatas. Saya membayar 1890 yen untuk jasa kirim kopor saya, sementara ransel dan satu tas lain berisi mie instan dan saos sachet ikut dengan saya ke Bis. Sebelum naik bis saya menyempatkan ke toilet. Bersih dan serba otomatis berbasis sensor. Kran wastafel akan mengalir saat kita menyodorkan tangan, begitupun dengan busa sabunnya. Pengering tangannya agak berbeda dengan kebanyakan di Indonesia, dibuatnya selaras dengan sifat air, mengalir ke tempat rendah, jadi jari tangan kita menghadap ke bawah dan perlahan kita tarik ke atas, angin dari mesin akan menjatuhkan air ke bawah sering tangan yang kita tarik ke atas.
Jarak dari Kansai Airport ke Kanazawa ternyata cukup jauh, 5 jam perjalanan bis. Kanazawa sebenarnya memiliki Airport, tetapi hanya untuk penerbangan domestik di Jepang. Bersambung...

2 comments:

eko mukminto said...

Pak, fei saya nitip Sake...

eko mukminto said...
This comment has been removed by a blog administrator.