Sunday, May 29, 2011

Trafficking di Sekitar Kita

Bu Ana, guru listening class kami di Pusat Pelatihan Bahasa UGM menawarkan sebuah film untuk diputar di kelas listening. Judul filmnya Taken. Saya sebenarnya sudah pernah nonton film ini namun tidak utuh, hanya mulai dari pertengahan film. Seperti tipikal film hollywood pada umumnya, film ini juga sempat menyisipkan terma hisbullah/hezbolah, dan sejenisnya. Genre film ini action. Full action. Filmnya menceritakan tentang seorang Ayah yang berusaha menyelamatkan Kim, puterinya yang berusia 17 tahun dari trafficking, perdagangan perempuan. Awalnya Kim berlibur ke Paris, di sana ia bertemu dengan seorang pemuda tampan yang terlibat sindikat perdagangan perempuan. Kim diculik dan diperdagangkan untuk tujuan eksploitasi seksual. Filmnya bagus, full body contact. Mengharukan, mengaduk emosi. Nah, saya tidak akan menceritakan tentang filmnya, tetapi sebuah peristiwa yang mirip dengan kisah tersebut. Sebuah perdagangan perempuan yang terjadi di sini, di Indonesia. Tepatnya di Provinsi Lampung.
***
Penghujung September 2003, rapat proyeksi untuk rubrik sorotan tabloid pers mahasiswa Teknokra Unila saat itu tak berlangsung alot seperti biasanya. Pasalnya salah satu ide yang diangkat mengalahkan ide lainnya dengan mudah, trafficking di Lampung. Informasi awal mengabarkan Lampung merupakan daerah transit trafficking (belakangan juga menjadi daerah sumber) sebelum sampai di daerah tujuan. Daerah tujuan beragam, tapi umumnya berlabuh di Batam atau Bangka, di dekat pertambangan Timah. Ada beragam tujuan trafficking tapi yang mencuat saat itu adalah trafficking dengan tujuan eksploitasi seksual, dijadikan pekerja seks di kafe-kafe pertambangan dll. Umumnya calon korban diiming-imingi pekerjaan di suatu tempat, hingga kemudian korban tersebut di dan terjebak di bisnis prostitusi.

Tulisan rubrik sorotan ditetapkan, Trafficking di Lampung. Titik-titik kejadian telah diketahui. Saya dan Eka sebagai penulisnya segera membentuk tim reportase. Disebar pada berbagai daerah titik kejadian. Eka Tiara Candrananda adalah pengusung ide tulisan. Mahasiswi sosiologi yang juga bekerja di Damar, NGO yang concern pada advokasi perempuan. Ia satu angkatan dengan saya di Teknokra. Orangnya rame, sedikit cerewet, susah menyeberang jalan dan takut gelap.

Saya dan Eka meluncur ke Tanjung Bintang, Lampung Selatan. Tanjung Bintang adalah daerah industri yang berada jauh di pinggir kota. Berbagai pabrik ada di sana: Coca Cola, pengalengan kepiting. Perkebunan karet milik PTPN juga ada di sana. Kami mendapat informasi ada dua korban trafficking di sana Yantri dan Bunga. Oktober 2003 kami meluncur ke rumah Yantri setelah nyasar beberapa kali. Ayahnya petani kampung pada umumnya. Kami didampingi Ayah dan Yanto anak lelakinya. Keduanya menceritakan tentang hilangnya Yantri.

Sudah satu minggu Yantri tak pulang ke rumahnya di Desa Pal Putih Simpang. Ayahnya mulai resah dan mencari tahu kemana perginya. Ia sempat mencari ke daerah Desa Pening (sebuah desa di daerah utara Tanjung Bintang) karena mendengar ada orang di daerah Pening yang suka mencari orang untuk dipekerjakan sebagai pembantu. Yantri ternyata bukan satu-satunya gadis yang menghilang, Linda, warga Desa Sindang Sari juga menghilang. Pal Putih Simpang bersebelahan dengan Desa Sindang Sari.
Yanto, kakak Yantri bersama paman Linda, mencoba mencari keduanya. Seorang tetangga mengatakan Yantri terlihat bersama Purwansih, perempuan tetangga kampung usia 40-an. Yantri tak pernah pamit, tetapi Yantri pernah mengatakan akan bekerja di sebuah restoran di Serang Banten melalui jasa Purwansih. Yono curiga dan berfirasat buruk karena Purwansih dikenal sering mencari orang untuk bekerja di tempat pelacuran. Yanto pernah menderngar Purwansih mengirimkan Neni anak Pak Kardi yang juga warga Sindang Sari Lampung Selatan ke Prabumulih. Yanto mendesak Purwansih yang awalnya mengelak hingga akhirnya mengaku bahwa Yantri dan Linda sekarang berada di Prabumulih Sumatera Selatan.

Awalnya pada September 2003 Yantri dijanjikan pekerjaan di pabrik sepatu dan restoran di daerah Serang Banten oleh Purwansih. Yantri mengajak Linda, teman dan tetangga desanya. Masih sekitar awal September 2003 pukul 09.00, keduanya telah berada di rumah Purwansih dan berangkat dengan kereta menuju Prabumulih Sumatera Selatan bukan daerah Jawa seperti yang dijanjikan sebelumnya (Adanya unsur penipuan ini kemudian dibantah Purwansih, menurutnya Yantri dan Linda telah diberitahu sebelumnya bahwa pekerjaannya adalah menjadi PSK di Prabumulih dan korban tak berkeberatan). Di Prabumulih tiba sekitar pukul 19.00, dan langsung menuju Jalan Simpang Penimur tempat Kafe Nadya (pengelola kafe) berada, setelah korban dipertemukan dengan Nadya, Purwansihpun kembali ke Tanjung Bintang, Ia mendapat imbalan Rp 500 ribu dari Nadya. Menurut Purwansih Rp 250 ribu untuk ongkosnya pulang, Rp 250 ribu lainnya atas jasanya mendapatkan korban untuk Nadya. Di Prabumulih Yantri dan Linda bekerja di sebuah kafe yang memiliki beberapa kamar untuk praktek prostitusi milik Nadya. Berbeda dengan Kim dalam film Taken yang diselamatkan Ayahnya dari hidung belang, Yantri dan Bunga terjebak dan terpaksa ‘melayani’ tamu-tamu kafe.

Segera setelah tahu Mawar berada di Prabumulih, Yanto, paman Linda dan Purwansih menuju Prabumulih untuk menjemput korban. Tragis, Yanto bertemu Yantri dan Linda di sana namun keduanya tak dapat dibawa pulang karena harus ditebus seharga Rp 2,5 juta. Yanto tak dapat berbuat apa-apa, kafe itu dijaga lelaki cepak berbadan tegap yang selalu mendampingi Nadya. Nadya mengenalkan lelaki tesebut sebagai ‘anggota’. Ini bukan film Taken, Yanto tak dapat bertarung melawan semua orang di situ seorang diri. Dengan hampa, ketiganya kembali ke Tanjung Bintang, karena kesal, paman Linda memukul Purwansih di depan rumah Linda di Pal Putih Simpang, Tanjung Bintang Lampung Selatan dan warga yang memang sudah berkerumun ikut ‘menghakimi’ Purwansih. Purwansih selamat setelah Effendi seorang hansip, melaporkan kejadian pada Syafe’i, kepala desa Purwodadi Tanjung Bintang Lampung Salatan. Syafe’i bersama hansip dan keluarga korban akhirnya membawa Purwansih untuk diserahkan ke Kepolisian Sektor Tanjung Bintang Lampung Selatan. Ayah Yantri dan Ayah Linda akhirnya meminta bantuan dan memberikan sejumlah uang pada Kepolisian Sektor Tanjung Bintang agar dapat membawa kembali korban dari Prabumulih. Ayah Yantri mengaku telah habis Rp 1,2 juta untuk penebusan Yantri. Akhirnya Purwansih mendekam di sel tahanan Polsek Tanjung Bintang. Meski terorganisir, melacak dan menemukan pelaku trafficking bukanlah perkara sulit. Kesulitan justru ada dalam persoalan internal. Minimnya anggaran penanganan perkara adalah salah satunya. Dalam praktek, terkadang korban harus terpaksa ikut membiayai pengusutan perkara.

Saya dan Eka meluncur menuju Polsek Tanjung Bintang. Kami diterima Kapolsek Tanjung Bintang dengan baik. Ia mempersilahkan kami menemui Purwansih di tahanan Polsek Tanjung Bintang. Purwansih dan menceritakan semua kejadiannya dan mengaku kapok menjadi makelar pencari calon PSK. Ia tidak menyangka akan berakhir seperti ini, dipukuli, dijerat Pasal 506 KUHP (mucikari) dan mendekam di tahanan. Saya tak bisa membayangkan ada manusia yang tega menjual manusia untuk dijadikan pelacur. Apa yang ada di pikirannya?

Tulisan untuk rubrik sorotan tak pernah jadi. Liputan kami hentikan. Miskalkulasi dana membuat kami tak bisa terbit satu edisi. Tanggal 26 dan 27 April 2005 saya kembali mewawancarai pihak korban dan meminta Ayah Yantri dan Ibu Linda untuk menjadi responden dalam skripsi saya. Saya sempat bertemu Yantri saat mewawancarai Ayahnya. Yantri saat itu (2005) berumur 19 tahun dan hanya bersekolah hingga tahap sekolah menengah pertama (SMP). Kini Yantri bekerja sebagai buruh di sebuah perusahaan rumput laut di Tanjung Bintang. Sementara Linda bekerja di Jakarta. Saya menghargai keluarga Yantri untuk tak menemuinya. Meminta Yantri menceritakan kembali kisah pahit sebagai korban eksploitasi seksual sama saja seperti memperkosanya kembali.

Trafficking, perdagangan perempuan dan anak ada, dan masih ada di luar sana hingga saat ini. Tujuan trafficking tidak hanya untuk eksploitasi seksual, tapi juga penjualan organ tubuh, dan pengantin pesanan. There are always good guys and bad guys out there. Jangan berdoa agar hidup semakin mudah, berdoalah agar kita semakin tangguh menjalani hidup ini.

*beberapa nama dalam tulisan ini sengaja disamarkan.

3 comments:

chox watdefak said...

trafik lights banyak di sekitar kita

Ferry Fathurokhman said...

traffic-lights=traffic-jammed. Chox, may I ask you something? Why did you leave facebook and choose twitter? Did you have an argue with Mark?

eko mukminto said...

hahaha... saya musushan sama zuckerberg... wekeekek...