Entah kenapa sekarang saya lebih suka menikmati pengalaman sendiri tanpa dituangkan dalam tulisan yang sebenarnya sangat tidak saya. Biasanya saya menuliskan banyak hal menarik yang saya alami. Mungkin karena zaman sudah berubah, orang sekarang lebih menikmati penyampaian audio visual ketimbang tulisan yang perlu effort untuk membacanya, atau mungkin karena kedatangan era kecerdasan buatan yang membuat tulisan sendiri menjadi begitu lambat dikerjakan. Menulis satu paragraf terasa menjadi begitu lama sejak ada kecerdasan buatan yang tentu saja meskipun tasteless, kadang terasa hambar meski semakin ke sini semakin natural, tapi tetap saja tidak ada seninya. Itu bukan tulisan kita, itu pikiran kita yang dibantu kecerdasan buatan via komputer.
Jadi begini ceritanya, ini bermula dari kunjungan singkat ke Jogja, sampai magrib, besok sore harus kembali pulang, hanya satu malam. Nah sampai hotel, saya penasaran dengan Jogokariyan yang viral. Sebuah Masjid dengan manajemen pelayanan yang mengagumkan. Maka bada Isya saya berangkat kesana berojek. Masjidnya ternyata tidak besar seperti masjid raya pada umumnya. Ini lebih sepeti masjid komplek pada umumnya, hanya lebih tertata dengan banyak fasilitas, dan bersih, saya bahkan tak menemukan kotoran cicak di toiletnya. Saya tiba di sana sekira pukul 20.30 WIB dan segera observasi sekitar. Seorang petugas sedang memvacum cleaner seluruh karpet masjid, ruang utama masjid ber-ac, sejuk. Ada angkringan di samping masjid dan beberapa orang yang berencana bermalam sambil menikmati kopi, teh, semacam nasi kucing dll, berbayar. Meski saya dikaruniai lidah sekelas Alm. Bondan Winarno tapi saya tak sempat cicipi angkringannya, saya terjebak dalam obrolan dengan seorang musafir asal Magelang.
Musafir ini yang sebelumnya saya lihat sedang menikmati kursi pijat Masjid Jogokariyan, gratis. Meski nyaman, wajahnya tak bisa menyembunyikan keruwetan badai di kepalanya. Ia sedang menjalani perjalanan spiritual untuk menenangkan pikirannya. Berkelana menyinggahi wali songo, Ia baru tiba dari Gresik setelah keliling ke Sunan Gunung Jati Cirebon, Demak, Kudus, Gresik, dan kembali ke Jogja, mendekati kampungnya di Magelang. Bekalnya habis, Ia berjalan kaki dari sebuah daerah yang asing di telinga saya, maklum bukan akamsi. Ia mantan pebisnis, punya showroom motor bekas di Magelang, stoknya mencapai 72 unit, dan beberapa mobil. Habis ludes semua. Bagaimana bisa begitu? Tanya saya. Pegawainya tak amanah, berkhianat “padahal sudah ikut saya 10 tahun loh mas,” getirnya. Perekonomiannya memburuk. Istri pun tak kuat, bercerai. Semua asetnya ia jual menutupi hutang, sawah, tanah, habis semua, ludes. Ia menyimpulkan riba penyebabnya, dan memilih jalan tobat. Berbekal 4 juta Ia berkelana, ternyata tak cukup, menyambung tumpangan kesana kemari untuk kembali ke Magelang dan terdampar di Jogokariyan. Ia cerita progam Masjid Jogokariyan yang dengan sangat cepat tersosialisasikan, ada kajian ustad Salim Fillah besok malam dalam rangka menyambut Ramadhan. Selama Ramadhan aka nada 3800 paket takjil seharga 15 ribu rupiah masing-masing paketnya “Itu artinya kan 900 jutaan setahun,” jelas musafir tadi yang jelas ngawur. Saya segera mengeluarkan telepon dan mengitung di kalkulator. 3800 x 15000, itu berarti seharinya 57 juta, dikali 30 hari berarti 1.710.000.000, satu milyar tujuh ratus sepuluh juta untuk takjil di bulan Ramadhan ini. “Dari mana uangnya,” kepo saya. “Ini masjid banyak donaturnya,” paparnya. Kalau anda ingin menyumbang, ke Masjid model ini paling tepat, ia tidak akan mengendap, langsung kembali ke masyarakat. Ini masjid memang mengagumkan, ada mobil mini listrik golf car untuk menjemput jamaah, lengkap dengan nomor WAnya. Kotak infaq dibagi sesuai ilmu, ada infaq subuh, ada infaq ini, dan infaq itu, tertata peruntukannya. Kabarnya memang saldonya harus seslalu dinolkan, artinya uang masjid ya harus dibelanjakan untuk kemakmuran, bukan disimpan menahun. Uang harus berputar bertansformasi menjadi manfaat. Masjid ini juga menyediakan tempat parkir mobil bagi musafir atau yang ingin wisata ruhani, malam ini satu bis rombongan dari Bandung juga tiba di sini. Tiga remaja tiba, santri dari sebuah pondok pesantren di Boyolali yang berasal dari Lampung, Pringsewu lebih tepatnya, ketiganya beradab berilmu, khas pondok pesantren, bahkan mereka izin permisi karena belum shalat Isya, salah satunya menjadi imam, biasanya karena lebih ilmu dari keduanya, baik hapalan mau pun ilmu lainnya.Semua musafir yang bermalam akan diminta KTP untuk didokumentasikan petugas keamanan, dan mencatat buku tamu bermalam. Untuk bermalam ditempatkan di lantai 2, tapi sebelum jam 10 malam harus menunggu di bawah, karena masih ada kajian tahsin di atas dan kajian ibu-ibu di lantai bawah. Mengobrol adalah cara musafir membunuh waktu. Petugas keamanan menanyai para musafir apakah akan bermalam “tidak, saya hanya sebentar,” jawab saya.
‘Dipaksa’ Menginap di Jogokariyan
Ini aneh. Saya berangkat dari hotel langit baik-baik saja, perjalanan lumayan panjang, sekitar 30 menitan. Jelang sampai masjid, gerimis mengundang, rintik saja, jas hujan tak diperlukan. Begitu sampai masjid hujan menderas, saya tunggu hingga jam sebelas, tak juga bergegas pergi, malah makin menjadi. Ada kamar ber-ac ber-tv menanti, tapi ada pengalaman juga menanti di Jogokariyan. Sebelas lima belas, langit terus-terusan mengguyur Jogokariyan. Sepertinya saya memang harus berada di sini malam ini. Berkali-kali sebenarnya isyarat untuk menepi merenung reflektif datang, tapi selalu saya abaikan, kali ini dipaksa menetap hingga fajar. Saya menyerah, mendatangi satpam “Saya bermalam,” sambil menyerahkan ktp saya untuk difoto dan mencatat di buku tamu. “menginap di atas, kalau makan minum ke bawah, subuh harus bangun berjamaah, pagi berada di bawah lagi,” jelasnya singkat dan padat. Saya ke lantai 2 masjid, observasi. Ada peralatan rebana, meja ngaji, beragam plakat, yang tersimpan di lemari sayap kiri masjid lantai 2. Ada toilet dan tempat wudu juga di lantai dua. Kembali ke ruang utama lt 2 masjid saya berbaring sambil mengisi daya baterai telepon. Sambil mendengar obrolan dua musafir yang baru saling kenal. Yang satu lebih sepuh, menceritakan pengalaman musafirnya. Ada yang simpati memberi bekal, ada yang ngajak berantem karena dianggap menelantarkan istrinya, ada yang cuek. Nah kebetulan saya di posisi yang ketiga, mendengarkan pasif seringkali menyenangkan, bukan hanya ia yang punya masalah. Tapi saya tak dapat menahan penasaran bagaimana ia mencuci pakaian, jadi saya tanyakan. “Pakai kantong plastik besar (sebagi ember), dan dijemur di masjid atau mushola, kadang ada marbot yang baik yang mempersilahkan hingga pakaian mengering,” jelasnya. Saya segera teringat saat kos di asrama Alinda Lampung. Merendam baju di plastik besar lebih praktis daripada ember, itu juga yang dilakukan Amru dan teman-teman di Darul Hikmah. Semua masuk akal sekarang. Saya terbangun dan menemukan charger saya menghilang. Rupanya remaja dari lampung tadi mencabut charger saya karena daya sudah penuh dan memberi isyarat bahwa charger saya ada di bawah topi. Tidur lagi.
Satu jam sebelum azan tetiba terbangun karena suara azan. Mirip di Madinah, ada azan sebelum azan yang sesungguhnya. Memberikan waktu untuk bersiap subuh. Saya bersih-bersih dan turun ke bawah. Perlahan jamaah mulai berdatangan dari komplek dan sekitar. Hingga jelang subuh masjid penuh, seperti sholat jumat. Imam mengabari ia akan membaca surat assajadah dan Al Insan di rakaat kedua. Ia mengingatkan akan ada ayat sajadah di rakaat pertama. Imamnya berasal dari Palestina, seorang muda yang bisa berbahasa Indonesia, kebetulan sedang ada di Jogja. Bada subuh Ia berikan kajian tentang tiga jenis manusia, dengan derajat dosa yang berbeda, sangat relate dengan para musafir yang lelah. Kesemuanya diampuni Allah saking luasnya ampunan bagi mereka yang menginginkan. Jelang kultum, syuruq datang, kebanyakannya shalat syuruq terutama bagi yang mengetahui keutamaannya. Masjid menyediakan bubur ayam, yang sudah dipaket rapih berikut sendok sekali pakai, dan tentu saja juga, teh manisnya. Semuanya kebagian, ajaib, pengelolaan masjid ini mengajarkan banyak hal.
Ini aneh. Fajar tiba, gelap
sirna, hujan reda, berhenti! Aneh sekali. Saya memesan ojek online, kembali ke penginapan. Ferry Fathurokhman, Jogja 12 Februari 2026. Memperingati jelang setengah abad usia kurang lima tahun, tiga hari lagi.

.jpeg)

